Siapa yang tak bahagia jika
impian dan harapan yang kamu rangkai
terwujud dengan mudah?
Sayangnya, saya bukan
bagian dari mereka yang beruntung. Ada harapan dan impian yang (menurut saya)
tertunda. Kegagalan selama hidup baru saja saya alami, dan akan segera saya
tinggalkan. Sebentar, saya akan mengingat kembali kesalahan apa yang telah
(sengaja) saya kerjakan, kelalaian yang jelas Saya mengetahuinya namun tetap Saya
acuhkan. Bukan mengutuk diri sendiri tapi bukankah untuk sesekali mengingat
ke belakang itu penting agar tak mengulanginya kembali?
Begini, saya memang bukan manusia yang memiliki
pemikiran sehebat Albert Einstein. Ok. Itu terlalu jauh untuk membandingkannya.
Maksud saya, manusia kuat yang berani mengalahkan musuh terbesar bagi sebagian
manusia lain yaitu malas. saya kalah. Musuh saya menang.
Saya rasa perjuangan
selama ini sudah cukup untuk menembus cita-cita saya. Semua yang saya kerjakan
semata-mata untuk hal itu. saya keliru, ternyata manusia lain lebih sanggup
memperjuangkan dan menggapainya. Saya kalah start.
Jelas saja saya
menyesalinya. Namun, saya menikmatinya.Satu hal, saya mendapatkan pelajaran
hidup yang mungkin manusia lain tak mendapatkannya.
Saya ambil kepingan kisah
yang menuntun saya ke jalan kebaikan. Bukankah setiap manusia memiliki jalan
hidup yang terbaik untuk dirinya?
Menurut saya kegagalan
ini adalah cara Allah menjawab dari doa-doa, usaha, keringat, dan segala
tangis.
Semua pasti relevan.
Kait-mengait untuk menuju hasil terbaik.
Saya bukan manusia yang
tetap teguh pada pendirian, sesekali goyah hanya karena kata-kata. Padahal itu
hanya suara dengan nada cemooh yang dikeluarkan oleh manusia, sama seperti saya, manusia yang
diciptakan oleh Tuhan dengan segala takdir yang digariskan oleh Nya, dia bukan
Tuhan, bukan yang menentukan takdir saya.
Kadang, pemikiran saya
bisa berubah 180 derajat dari sisi positif
dari detik itu juga. Maklumlah, manusia yang baru delapan belas tahun
menjalani hidup dan (katanya) kehidupan yang sebenarnya baru dimulai. Saya tak
paham, apakah saya sudah menemukan jati diri? Apakah jalan yang saya pilih
sekarang ini memang digariskan Tuhan
seperti itu? Entahlah, namun kegagalan saat ini menuntun saya pada pendewasaan
diri.
Harapan saya masih
tersimpan rapi. Cita-cita saya masih harus terwujud. Meski banyak angin yang
akan sesekali kencang, semua harus terlewati. Meski pendirian kadang goyah,
semua harus kembali pada tujuan awal... Ya, impian terwujud.
Saya yakin banyak
sekali rintangan yang akan saya hadang nantinya. Menurut saya, Allah memberi cobaan pasti dengan
ketegaran hati yang akan kita dapatkan nantinya.
Untuk siapapun di luar sana yang baru mengalami kegagalan seperti saya, semoga kita bisa memaknai semua yang "sebentar" ini, menikmati seluruh proses dalam hidup.... there is time for everything.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar