Rabu, 20 September 2017

Tertunda



Siapa yang tak bahagia jika impian dan harapan yang kamu rangkai  terwujud dengan mudah?
Sayangnya, saya bukan bagian dari mereka yang beruntung. Ada harapan dan impian yang (menurut saya) tertunda. Kegagalan selama hidup baru saja saya alami, dan akan segera saya tinggalkan. Sebentar, saya akan mengingat kembali kesalahan apa yang telah (sengaja) saya kerjakan, kelalaian yang jelas Saya mengetahuinya namun tetap Saya acuhkan. Bukan mengutuk diri sendiri tapi bukankah untuk sesekali mengingat ke belakang itu penting agar tak mengulanginya kembali?
Begini,  saya memang bukan manusia yang memiliki pemikiran sehebat Albert Einstein. Ok. Itu terlalu jauh untuk membandingkannya. Maksud saya, manusia kuat yang berani mengalahkan musuh terbesar bagi sebagian manusia lain yaitu malas. saya kalah. Musuh saya menang.
Saya rasa perjuangan selama ini sudah cukup untuk menembus cita-cita saya. Semua yang saya kerjakan semata-mata untuk hal itu. saya keliru, ternyata manusia lain lebih sanggup memperjuangkan dan menggapainya. Saya kalah start.
Jelas saja saya menyesalinya. Namun, saya menikmatinya.Satu hal, saya mendapatkan pelajaran hidup yang mungkin manusia lain tak mendapatkannya.
Saya ambil kepingan kisah yang menuntun saya ke jalan kebaikan. Bukankah setiap manusia memiliki jalan hidup yang terbaik untuk dirinya?
Menurut saya kegagalan ini adalah cara Allah menjawab dari doa-doa, usaha, keringat, dan segala tangis.
Semua pasti relevan. Kait-mengait  untuk menuju hasil terbaik.
Saya bukan manusia yang tetap teguh pada pendirian, sesekali goyah hanya karena kata-kata. Padahal itu hanya suara dengan nada cemooh yang dikeluarkan oleh manusia, sama seperti saya, manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan segala takdir yang digariskan oleh Nya, dia bukan Tuhan, bukan yang menentukan takdir saya.
Kadang, pemikiran saya bisa berubah 180 derajat dari sisi  positif dari detik itu juga. Maklumlah, manusia yang baru delapan belas tahun menjalani hidup dan (katanya) kehidupan yang sebenarnya baru dimulai. Saya tak paham, apakah saya sudah menemukan jati diri? Apakah jalan yang saya pilih sekarang  ini memang digariskan Tuhan seperti itu? Entahlah, namun kegagalan saat ini menuntun saya pada pendewasaan diri.
Harapan saya masih tersimpan rapi. Cita-cita saya masih harus terwujud. Meski banyak angin yang akan sesekali kencang, semua harus terlewati. Meski pendirian kadang goyah, semua harus kembali pada tujuan awal... Ya, impian terwujud.
Saya yakin banyak sekali rintangan yang akan saya hadang nantinya. Menurut saya, Allah memberi cobaan pasti dengan ketegaran hati yang akan kita dapatkan nantinya.
Untuk siapapun di luar sana yang baru mengalami kegagalan seperti saya, semoga kita bisa memaknai semua yang "sebentar" ini, menikmati seluruh proses dalam hidup.... there is time for everything.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar